Tulisan bergerak di Tab

Kolom Pencarian

Kopi Toraja Premium 100 % Kopi Murni

KOPI TORAJA DENGAN KUALITAS PREMIUM 100 % KOPI MURNI
Harga Bubuk (Ground) atau Biji goreng (Roasted bean) Premium Arabica Packing Alumunium foil with one way air flow (100 Gram ) =Rp 35.000,-
Informasi dan pesanan: 081977904428 / 07219966128 Lebih Jelasnya KLIK DISINI

Radja Kopi Luwak -- Premium Coffee -- Export Quality -- 100 % Original Coffee Luwak

Harga Bubuk (Ground) atau Biji goreng (Roasted bean) Robusta Packing Drip Sachet ( 10 Gram ) = Rp. 35.000,- Packing Alumunium foil with one way air flow (100 Gram ) =Rp 200.000,- Arabica Packing Drip Sachet ( 10 Gram ) = Rp 37.500,- Packing Alumunium foil with one way air flow (100 Gram ) =Rp. 225.000,- Informasi dan pesanan: 081977904428 / 07219966128 Lebih Jelasnya KLIK DISINI

Komoditas kopi di wilayah Lampung

Dinas Perkebunan Provinsi Lampung menargetkan produksi kopi luwak berskala besar pada tahun 2010 untuk memenuhi tuntutan konsumen.

"Banyak yang menginginkan kopi luwak diproduksi di sini, karena itu kami sedang menyiapkan perangkatnya," kata Kepala Dinas Perkebunan Lampung, Sutono, di Bandarlampung, Jumat.

Ia mengaku sudah ada pihak yang ingin bekerja sama memproduksi kopi tersebut dengan skala besar dan lokasi pabriknya tidak jauh dari Kota Bandarlampung. "Tujuan lain untuk pendidikan, wisata serta lainnya, sehingga ada nilai ekonomi yang didapat dari keberadaannya," ujar dia.

Sutono menjelaskan, Lampung memiliki potensi mengingat produksi biji kopi cukup baik serta kopi Lampung memang sudah terkenal. "Ini kesempatan untuk diversifikasi usaha. Artinya ada turunan produk lain dari produksi kopi konvensional," kata dia.

Menyinggung di Lampung Barat sudah ada yang menghasilkan kopi luwak, ia menjelaskan tidak masalah karena skalanya berbeda. Areal kopi robusta di Lampung mencapai 163.837 hektare dan petani yang terlibat dalam pembudidayaannya sekitar 218.447 orang.

Sebelumnya Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) A Hamidi, mengingatkan adanya pengurangan areal perkebunan kopi di beberapa wilayah Lampung. "Beberapa kebun petani sudah disulam dengan tanaman kakao. Ini menjadi ancaman karena setelah tanaman penghasil coklat itu besar, maka tanaman kopinya akan ditebang," kata dia.

Hamidi menjelaskan, banyaknya petani beralih ke kakao karena selain harganya cukup menjanjikan, mereka dapat panen setiap saat, karena kakao tidak mengenal musim dalam berbuah. Karena itu, ia menyarankan pemerintah baik pusat hingga daerah segera mengambil regulasi guna mengatasi dan mencegah jangan sampai tanaman kopi menjadi punah.

"Selain pemerintah, pihak swasta atau organisasi yang mengambil keuntungan dari perkopian untuk terjun langsung mengawal dan membina petani kopi," harapnya.

sumber : surat kabar harian KOMPAS

Last Backlink Created